hijrahku

Thursday, July 21, 2005

Kampus Kehidupan

KAMPUS KEHIDUPAN


Setahun yang lalu ketika saya resmi menjadi “mahasiswa” di kampus “kehidupan” begitu banyak hal dan keinginan yang muncul di kepala ini. Idealisme-idealisme tinggi selalu mewarnai setiap hari-hari saya. Tidak berbeda dengan kebanyakan mereka yang baru saja keluar dari kampus pembelajaran dengan sejuta teori dan aturan, yang ternyata tidak cukup menjadi bekal memasuki kampus kehidupan yang sesungguhnya, saya pun punya keinginan besar bisa segera bekerja.

Bekerja dalam pengertian kebanyakan orang, berada di sebuah kantor atau perusahaan besar, lengkap dengan pakaian kantor sebagai tanda kebesaran bagi para kaum intelektual. Hingga akhirnya Allah izinkan saya bekerja di sebuah perusahaan bertaraf internasional.

Bahagia dan betapa bangganya diri ini saat itu. Sayang perasaan itu tidak bertahan, ternyata kehidupan di kantor tidak seindah seperti dalam bayangan. Bekerja penuh di bawah tekanan dan target, hingga larut malam bahkan terkadang kumandang azan subuh baru menjadi penyelamatku untuk bisa keluar dari kantor dan segera pulang itupun dengan keharusan kembali ke kantor pada pukul 8.

Tak lama saya berada di kantor itu hingga akhirnya saya putuskan untuk resign dengan harapan Allah berikan pengganti rezeki yang lebih baik yang lebih bisa membuat diri merasa nyaman.

Selang beberapa bulan kemudian tawaran mengajar berdatangan. Tak begitu sulit melakukan pekerjaan ini, karena mengajar sudah menjadi bagian dari hidupku.

Di luar dugaan ternyata saya merasakan sebuah kekuatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Memang mengajar bagi sebagian orang masih dianggap sebagai hal yang sepele bahkan mungkin teramat sepele, apalagi bila itu dikerjakan oleh seorang sarjana sepertiku. Bahkan tidak sedikit orang yang selalu mempertanyakan sampai kapan saya mau bertahan pada profesi ini, menurunkan gengsi, menurut sebagian mereka. Tidak memiliki masa depan yang baik, tidak ada jaminan jabatan, dan pendapatan yang tetap. Tapi entah mengapa telinga ini tiba-tiba saja menjadi tuli dan tak peduli dengan semua perkataan orang-orang.

Interaksiku dengan murid-murid sekaligus orang tua mereka semakin meyakinkan diri ini bahwa setiap pilihan adalah bagian dari proses hidup yang patut untuk selalu disyukuri. Banyak ilmu berharga yang saya peroleh terutama berkaitan dengan parenting, ilmu yang selama ini tak pernah saya pahami mengingat segala bentuk aktivitas yang saya tekuni selama masa kuliah hingga akhirnya bergelut dengan kehidupan kantor tidak pernah sedikitpun menggugah dan menyadarkan akan fitrahku sesungguhnya sebagai seorang perempuan.

Genap setahun saya belajar banyak hal di kampus kehidupan dengan banyak nilai-nilai yang saya dapatkan. Ketika dibangku kuliah pembelajaran nilai A selalu menjadi target utama, maka di kuliah kehidupan ini saya berharap mampu meraih nilai terbaik untuk sebuah pemahaman yang semakin bergeser dari nilai idealisme yang selama ini saya anut.

Buat yang baru akan memasuki “kampus kehidupan” bersiaplah diri dan buka pintu cakrawala dunia, izinkan mata dan hati untuk melihat lebih luas dan lebih dalam lagi kondisi kehidupan yang sesungguhnya, yang pasti akan sangat jauh berbeda dari dunia kampus yang membuat kita selalu merasa nyaman.

Mantapkan dan yakinkan diri dengan “jurusan” yang telah Anda pilih dan biarkan orang lain menikmati kebaikan dan kemanfaatan dari apa yang mampu Anda hasilkan dan persembahkan. Sadarkan diri bahwa setiap aktivitas yang ditujukan untuk kemanfaatan bagi sesama akan membantu kita bertahan di tengah derasnya gelombang kehidupan. Yang pasti keberhasilan dan kesuksesan harus jadi pemacu untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dengan berusaha “berprestasi” di setiap “jurusan” yang telah kita pilih, tentunya dengan semangat kerja keras dan dukungan kedekatan pada sang Khalik, Sang Maha Kuasa atas segalanya.

Buat yang sudah lebih lama menjadi mahasiswa di kampus kehidupan, berapakah “nilai” yang sudah Anda peroleh. Seberapa besarkah semua pelajaran hidup yang telah Anda dapatkan memampukan Anda berpikir lebih bijaksana dan dewasa menyikapi setiap gelombang hidup ini dan menjadikan Anda lebih bijaksana dalam menilai setiap pilihan hidup orang lain. Terakhir yang terpenting seberapa besarkah nilai yang telah Anda peroleh memampukan Anda untuk semakin menghayati setiap aktivitas hidup yang Anda jalani setiap harinya, dan akhirnya menyadarkan Anda akan pentingnya menyediakan sedikit waktu untuk bersujud dan mengucap syukur kepada Sang Pemilik hidup ini………….untuk semua proses pembelajaran yang telah berjalan.

“di persimpangan jalan penuh pilihan”

Teruntuk : Sahabat-sahabat yang setia mendampingi di sepanjang jalan kehidupanku
dan selalu memberi dukungan untuk setiap pilihan hidupku